Saparo.id
Responsible Design Studio yang fokus merespon limbah sebagai media eksplorasi dan eksperimen dalam berkarya.
Responsible Design Studio yang fokus merespon limbah sebagai media eksplorasi dan eksperimen dalam berkarya.
Saparo.id lahir dari kegelisahan seorang kreator muda, Jemi, terhadap tumpukan limbah tekstil yang dihasilkan industri mode. 15% - 60% dari material tekstil berpotensi hanya menjadi limbah.
“Mengumpulkan potongan denim bekas, menjahit ulang, dan memberi mereka bentuk baru. Dari proyek kecil tersebut, lahirlah Saparo — sebuah nama yang mencerminkan semangat untuk “menyapih yang lama, melahirkan yang baru.”
“Saparo.id bukan sekadar brand, melainkan gerakan sosial dan lingkungan. Saparo bisa menjadi contoh platform bagi generasi muda untuk melihat limbah sebagai peluang, bukan masalah."
Saparo membuktikan bahwa fashion berkelanjutan gaya Saparo, juga mampu menarik perhatian para pecinta fashion dengan desain yang kasual namun berkarakter.
Setiap potongan punya karakter. Ada yang sudah lusuh, ada yang warnanya mulai pudar. Justru di situ letak keindahannya.
Perjalanan Saparo membawa Jemi pada berbagai peluang dan proses yang "membangun". Baginya itulah Magic, dan semoga pemakai produk Saparo akan menemukan "Magic"-nya sendiri.
Sebuah filosofi untuk melepaskan sesuatu dari kebiasaan lama dan melahirkan yang baru. Dari sana, Jemi mulai melihat limbah bukan lagi sebagai akhir, tapi sebagai awal dari sesuatu yang lebih hidup.
Ketika kesadaran akan "sustainability" bukan cuma jadi slogan, namun menjelma jadi "laku urip" dan menghasilkan menghidupkan makna baru bagi denim bekas.
“Aku ingin membuat yang bisa kupakai sendiri.
Yang bukan cuma ikut tren. Yang punya alasan untuk ada.”
— Jemi, Founder Saparo
Bagaimana ceritamu bertahan tanpa kehilangan bentuk?”