Lagu ini bercerita tentang manusia yang hidup di dunia serba artifisial—penuh kepalsuan, kemewahan semu, dan hal-hal buatan yang kehilangan sentuhan alami.
Pohon plastik digambarkan sebagai simbol dari kehidupan modern yang indah dari luar, tetapi tidak memiliki jiwa atau akar yang sesungguhnya.
Maukah kita hanya menjadi “plastic tree” yang indah dipandang tapi kosong, atau tetap menjadi pohon asli yang mungkin tidak sempurna tapi penuh kehidupan?
Lagu ini memperlakukan “oksigen” sebagai entitas hidup yang menyegarkan sekaligus rentan terhadap polusi.
Udara yang menyegarkan berubah jadi ‘mencemari’ karena ulah manusia—sebuah sindiran tajam terhadap degradasi kualitas udara.
"Segarkan ingatanmu saat menghirupku... aku bisa hidupkan dirimu hari ini... Terhisap panas dan terbakar... lalu cemari udara dan trotoar... aku bisa membakarmu hari ini"
Bayangkan bumi yang dulu teduh dan ramah kini kehilangan sosok perlindungannya, digantikan oleh sirine, asap, debu, dan tumpukan sampah yang perlahan “menelan” cakrawala kita.
"pepohonan kehilangan teduhnya, pun teduh kehilangan ramahnya, ramah tamah terbaca agenda di baliknya, raung sirine meraung, debu dan asap bergulung, tak terhitung sampah menggunung menelan cakrawalanya".
Alam bukan rusak karena bencana alam, tapi karena ulah manusia yang mengeksploitasi tanpa batas. Ini adalah kritik sosial yang tajam, khas Navicula: mengaitkan krisis lingkungan dengan sifat tamak manusia.
Menggambarkan realita: hutan alam ditebangi, digantikan dengan monokultur sawit atau hutan industri.
Pepohonan alami yang kaya keanekaragaman hayati diganti dengan “mesin ekonomi”.
Satwa liar seperti harimau kehilangan tempat tinggal karena habitatnya diganti dengan perkebunan.
Propaganda bahwa tambang membawa kesejahteraan. Padahal faktanya surga terakhir di bumi sudah jadi korban.
Metafora tarik tambang dipakai untuk menggambarkan perebutan kekayaan alam: rakyat ditarik ke jurang kerugian, sementara korporasi/elite menarik keuntungan.
Ini bukan cuma soal kita. Ini tentang generasi yang belum lahir. Tentang pohon yang belum tumbuh. Tentang sungai yang belum mengalir lagi.
"Lirik bisa jadi lebih tajam dari editorial, bersama musik teriakan tentang kota yang penuh polusi, gema kegelisahan manusia di tengah kerusakan. Lalu diwariskan generasi ke generasi bukan sekadar lagu, ini adalah arsip luka ekologis kita."